AM Hendropriyono: Memang Panji Gumilang Bekas NII

 
Kepala BIN Hendroriyono mengakui pemimpin Pondok Pesantren Al Zaytun merupakan bekas NII. Namun menurutnya, Panji sudah sadar dari aliran NII yang sesat. Panji sekarang sudah menjadi nasionalis.

"Memang Panji Gumilang itu bekas NII. Dia sendiri memang ngaku itu," kata Hendro kepada detikcom.

Nama Panji Gumilang disebut sebagai pemimpin NII KW 9 yang akhir-akhir ini meresahkan terkait gerakan cuci otak untuk pengumpulan uang. Panji kepada detikcom membantah ia pernah masuk NII apalagi menjadi pemimpin NII KW 9. Baginya NII sudah tamat.

Bagi Hendro, Panji sudah menjadi nasionalis dan menyadari perjuangannya menginginkan syariat Islam tidak ada gunanya karena semua itu sudah tertampung dalam UUD 1945. Panji masuk NII karena usianya masih muda.

Hendro menilai yang kini mempersoalkan dan menyerang Panji justru merupakan NII yang sesunguhnya. "Justru yang menyerang dia itu adalah yang NII-NII itu. Juga ada yang bilang dia bekas NII, kalau bekas NII emang mau ngapain? Daripada berteman dengan bekas ustad," lanjut Hendro.

Berikut lanjutan wawancara dengan Hendropriyono:


Dari kedekatan anda dengan Panji Gumilang, seperti apa sebenarnya sosok dia itu?

Begini sebagai orang Islam, saya melihat kemajuan pendidikan Islam seperti yang dibangun dia, saya bangga. Tapi dengan NII saya tidak bangga, saya saya sangat benci. Justru yang menyerang dia itu adalah yang NII-NII itu. Juga ada yang bilang dia bekas NII, kalau bekas NII emang mau ngapain? Daripada berteman dengan bekas ustadz.

Kenapa selama ini Al Zaytun yang dipimpin Panji Gumilang mencantumkan nama tokoh presiden, menteri dan sebagaimana untuk gedung-gedungnya. Panji Gumilang ini ingin menunjukan rasa nasionalismenya saja. Ada yang bilang termasuk temen wartawan, kalau itu hanya tipuan saja gimana? Mana ada yang mau masuk sekolah penipu. Buktinya, santrinya ngomong bahasa Inggris, bahasa Arab. Nah kalau NII nggak mau soal beginian.

Apalagi Panji ini lulusan Ponpes Gontor. Memang saya akui dia itu orangnya asocial, kurang bisa bergaul. Dia juga memang tidak pernah bicara soal pribadi sendiri, makanya saya tidak percaya kalau dia sekarang dikatakan memimpin NII KW 9. Makanya saya bela dan saya sudah selidiki dia melalui Tim Investigasi, seperti saya, Dai Bachtiar dan Said Agil Almunawar, tim ini dibentuk Presiden Megawati. Padahal saya sudah jelaskan, ini sebelumnya sudah diselidiki sejak Presiden Habibie juga.

Memang Panji Gumilang itu bekas NII. Tapi dia sendiri memang ngaku itu. Termasuk soal Qanun atau UU yang dibuat oleh Kartosuwiryo itu semua tertampung di dalam UUD 1945, hanya saja ada satu yang klik. Semua sebenarnya sudah tertapung seperti yang dibuat Bung Karno. Makanya Panji sempat bilang, apa yang sebenarnya dulu saya perjuangkan? Karena dulu dia masih terlalu muda memahami itu. Nah, makanya saya jamin Al Zaytun bukan NII, tapi siapa yang bisa jamin tidak kesusupan, lah UIN atau UI saja bisa kesusupan.

Intelijen kita sering dituding kebobolan, termasuk kasus NII ini. Kondisi sebenarnya bagaimana?

Begini, saya sudah bilang bahwa perang saat ini bukan lagi perang simetris seperti zaman dulu yang pakai senjata dan banyak-banyakan orang, tentara gede-gedean otot. Sekarang ini perangnya di sini, perang psikologi.

Orang-orang intelijen sekarang itu pastinya orang-orang dahulu juga. Saya jadi Kepala BIN itu kan setelah saya jadi Direktur Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI berapa kali. Jadi Direktur A, Direktur D, Asisten Intelijen Laksus lalu menjadi Kepala BIN. Jadi orang-orang lama, tidak ujug-ujug dari jalanan menjadi Kepala BIN, itu harus ada jejak rekamnya.

Nah kalau di zaman Pak Harto dulu ada yang mengatakan jarum jatuh saja intelijen sudah tahu. Lah orangnya sama kok, dia-dia juga. Zaman sekarang kok bisa kecolongan, ya dia-dia juga. Yang beda apa? Ya yang makainya dan sistemnya. Kan sebemarnya sama-sama gergajinya, tapi kalau dulu gergajinya bener, sekarang gergajinya terbalik, ya kepotong kan. Jangan lupa yang membedakan itu juga soal lingkungannya.

Dahulu pipa air atau gas dan listrik itu rahasia, namun demi keterbukaan apa-apa harus terbuka dan teriak anti rahasia. Makanya zaman dahulu ini top secret semua. Sekarang setelah dapat mau apa? Nah,sekarang buktinya mau dibom, untung gagal, kalau berhasil? Artinya, selain pengguna juga aturan mainnya harus ditinjau ulang dalam soal penggunaan intelijen ini.

Ada yang menilai bahwa aksi terorisme selama ini dilakukan oleh jaringan kelompok NII, tapi ada kesan pemerintah membiarkan?

Menurut saya itu bukan pembiaran, tapi soal prioritas saja. Kalau kita bekerja kan biasanya harus berdasarkan skala prioritas. Kalau semuanya dikerjakan akhirnya tidak selesai semua, bukan begitu. Prioritas pertama pemerintah, karena dulu juga saya duduk di kabinet adalah yang memang langsung mengancam secara fisik dulu, yaitu bom, pembunuhan, penikaman dan ancaman fisik lainnya.

Ini kan negara demokratis yang memiliki ciri pada keterbukaan dan kebebasan. Jadi, selama itu tidak merugikan, hanya menjual dengan meyakinkan orang, itu sah-sah saja. Tetapi setalah ada orang yang dirugikan, ada orang tua yang melapor bahwa ada penyesatan atau penipuan, seperti menipu dengan malakin duit atau menipu dengan memakai kedok agama, baru kita mengambil langkah. Karena untuk mengambil langkah itu harus terencana setelah kita melihat kejelekannya, kerugiannya atau kemudaratannya. Jadi bukan berarti dibiarkan, tapi prioritasnya saja.

NII ini kan sebenarnya ancaman nyata yang merupakan kepanjangan dari gerakan DI/TII hingga GAM sampai kelompok teroris di Indonesia, yang substansinya adalah gerakan makar, kenapa pemerintah selama ini tidak tegas saja?

Itu memang cara setiap pemerintahan beda-beda, administrasi kepemerintahan waktu Presiden Megawati, Presiden SBY dengan Presiden Soeharto itu beda-beda metodenya dalam menghadapi masalah gejolak sosial. Misalnya dalam masalah NII ini saja, yang dia digunakan setelah gagalnya NII Kartosuwiryo. Dia (NII) kan memperbaiki strategi gerakan yang salah selama ini digunakan, karena itu lalu buat tiga strategi atau tahapan.

Pertama, bekerja penggalangan untuk menarik hati dan pikiran orang. Setelah orang tertarik hatinya dengan berbagai cara agar senang dibentuklah wadah berupa front-front, ada front inilah dan front Islam itulah. Ketiga, perjuangan bersenjata dan gerilya atau perjuangan secara fisik. Intinya adalah bagaimana merebut kekuasaan. Karena tidak ada artinya suatu ajaran, termasuk ajaraan syariatisme itu kalau tidak merebut kekuasaan dulu. Akhirnya unjungnya ke sana.

Nah, sekarang ini dalam tahap kerja menarik hati dan pikiran sambil mengumpulkan uang juga. Ini adalah tahapan untuk kemudian meningkat, tahapan ini bukan berarti tersekat-sekat dan sambung-menyambung. Bisa saja tahapan ini bersamaan sekaligus begitu saja, jadi batasnya tipis dan buram. Bisa saja langsung ke tahap perang gerilya. Tapi gerilya ini bukan seperti zaman perang dulu saja seperti gerilya di hutan seperti di Aceh saja, tapi di kota juga.

Jadi terjadi urban gerilya dengan melakukan perampokan dan mengebom di kota. Ini sudah diprediksi sejak lama bahwa pola gerilya ini akan berubah dari hutan ke kota. Karena para teroris sudah sadar bahwa yang penting sasaran selalu psikologi, makanya media massa mereka akan gunakan juga sebagai perang psikologi